Setiap orang bisa menjadi Wartawan (Citizen Journalist) di lingkungannya. Pastikan informasi disekitar anda termuat di ATJEHbuzz ONLINE dengan mengirimkannya kepada kami melalui e-mail: redaksi.atjehbuzz@gmail.com. Anda juga bisa mengomentari setiap berita yang kami sajikan melalui Facebook Plugin yang terdapat dibagian bawah dari masing-masing berita.
Showing posts with label Internasional. Show all posts
Showing posts with label Internasional. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Massacre of The Workers Re-Occurring in Aceh, 4 Killed!

Banda Aceh|ATJEHbuzz – Armed violence repeated again upon the workers in Aceh coincide with New Year's Eve, Saturday (31/12).

The incident occurred in Bireuen District, Aceh – Indonesia causes 3 died and 7 labours seriously injured  result of being shot by  unknown at 09.00 p.m. The victims are the labours who work as the hole of wire digger for PT. TELKOM Indonesia and were taking a rest when them shot at the worker’s barracks.

Photo Source: Kiss FM Aceh
 
According to the information obtained from a source who did not want his name mentioned, the current death tolls are still buried in The dr. Fauziah Distric Hospital (RSUD dr. Fauziah) Bireuen - Aceh, while the victims are still critical in intensive care. A Nurse from The Hospital who contacted by the ATJEHbuzz justify it.

Until this news was revealed, no one can be asked for responses about the motive of the incident, whether this incident had something to do with the elections in Aceh which is claimed by some people is full of problems?

A similar incident had occurred not until one month ago (12/04/11), when it happened to workers of PT. Satya Aung in North Aceh (Aceh Utara), 3 killed and 4 injured at the time.[AJL]

Thursday, December 8, 2011

Yahudi Bakar Masjid di Bruqin Tepi Barat

Yerussalem - Sebuah masjid di desa Bruqin dekat Salfit, Tepi Barat dibakar oleh pemukim Yahudi. Demikian dikatakan pejabat setempat.

Gubernur Salfit Isam Abu Bakr kepada Maan mengatakan, pada Rabu pukul 2 dini hari (06/12/2011) sejumlah pemukim Yahudi menyemprotkan cat ke dinding masjid dan menuliskan slogan-slogan anti Arab. Mereka juga membakar sebuah mobil milik penduduk setempat Mutasim Samarah.

Abu Bakr mengatakan, serangan terjadi setelah tentara Israel mengeluarkan surat perintah penghancuran masjid karena dianggap dibangun tanpa mengantongi izin.

Accra Samara, walikota Bruqin, menceritakan, sebuah ban yang dibakar dilemparkan ke pintu masuk masjid. Para penyerang itu menuliskan kata-kata "Pahlawan Ariel", lansir Associated Press.

Ariel adalah pemukiman Yahudi yang terletak di dekat lokasi kejadian, yang merambah wilayah Palestina di Tepi Barat.

Menurut keterangan penduduk, sebuah buldoser milik Ali Nael, juga dibakar oleh orang-orang Yahudi tersebut.

Sebelumnya pada bulan Juni, masjid di Al Mughayyir dekat Ramallah dibakar dan dicorat-coret pemukim yahudi.

Hal serupa lakukan warga Zionis Israel terhadap Masjid Al Nurayn di Qusra sebelah selatan nablus pada bulan September.

Masjid di desa pemukiman Badui Palestina di Tuba Zangaria juga dibakar dan dicorat-coret Yahudi pada bulan Oktober.

Polisi Israel seperti biasa, selalu mengatakan, akan menyelidiki peristiwa tersebut.*

Keterangan foto: Masjid Palestina di Tuba Zangaria dibakar pemukim Yahudi Israel.

Sumber: Hidayatullah.com

Amerika Serikat Dibuat Iran Bertekuk Lutut...?

* Takut Harga Minyak Melesat Obama Minta Kongres Tunda Sanksi Iran

WASHINGTON - Apa yang bisa membuat AS sedikit bertekuk lutut pada Iran? Salah satu jawabannya mungkin minyak. Pemerintahan Presiden Barack Obama baru-baru ini mencoba menekan Kongres AS untuk meringankan sanksi ekonomi atas Iran.

Padahal sanksi itu belum sebulan lalu diterapkan AS, Inggris dan Israel. Sanksi itu terkait transaksi finansial dan Investasi asing di Iranyang diklaim sebagaimtempat cuci uang. Israel cs mengeluarkan sanksi karena khawatir dengan perkembangan nuklir di Iran yang menurut mereka mengarah ke level militer.

Seperti dikutip Reuters, Pemerintahan Obama meminta Kongres untuk meringankan sanksi bagi Bank Sentral Iran. Mengapa? Menurut pemerintahan Obama, pembatasan transaksi Bank Senyral Iran bisa memicu lonjakan harga minyak.

"Kalau harga minyak melonjak itu keuntungan bagi Iran. Mereka bisa memanfaatkannya untuk tiset nuklir lagi yang kemungkinan mengarah ke persenjataan nuklir," demikian alasan Pemerintah ke Kongres.

Dalam permintaannya itu, Obama menjelaskan, sebaiknya sanksi ekonomi atas bank sentral Iran ditunda hingga enam bulan ke depan. Selainitu mereka juga meminta perubahan aturan bagi investor asing untuk bisa kemal bertransaksi dengan bank sentral Iran.

Namun usulan ini ditolak mentah- mentah oleh Senat AS. Mereka mengambil voting dengan hasil 100-0 menyatakan menolak permintaan Pemerintahan Obama untuk meringankan sanksi AS.

Senator dari Partai Republik Mark Kirk dsn Senator dari Demokrat Bob Menendez menegaskan sanksi AS atas Iran sudah, "Keras, bertanggungjawab, dan adil," klaim mereka.

 "Kalau rezim Iran yang brutal itu bisa mencapai tujuan  mereka, yaitu memiliki bom nuklir, maka itu kesalahan kami di Kongres dan Senat," kata Kirk.



Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Saturday, December 3, 2011

DI BALIK PERANG IRAK

Oleh: Harun Yahya

Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski mendapat tentangan dari seluruh dunia, telah dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran berikutnya.

Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah memulai penggempuran terhadap Irak. Meskipun kenyataannya kebanyakan negara di seluruh dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri, menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh untuk meneruskan rencana serangannya. Ketika kita melihat apa yang ada di balik sikap keras kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang ditujukan untuk memecah-belah Irak memiliki akar sejarah yang panjang"

Rencana Israel Membagi Irak
Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan skenario "pembagian Irak" sebagaimana berikut:
Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi masalah perpecahan dalam negeri, dijamin bakal menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat Irak jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria" Sekali lagi, Irak pada intinya tidaklah berbeda dengan para tetangganya, meskipun sebagian besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan sebagian kecil Sunni yang menguasai pemerintahan. Enam puluh lima persen penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di negara di mana sekelompok elit berjumlah 20 persen memegang kekuasaan. Selain itu terdapat minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara, dan jika bukan karena kekuatan rezim yang memerintah, angkatan bersenjatanya, dan pemasukannya dari minyak, masa depan Irak akan takkan berbeda dengan nasib Libanon di masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis suku atau agama sebagaimana yang terjadi pada Syiria di masa kekhalifahan Utsmaniyyah adalah sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih) negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; dan wilayah kaum Syi'ah di selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.
Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali bagaimana skenario ini sebagiannya telah dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi menjadi tiga wilayah. Fakta bahwa rencana AS menduduki Irak, yang sedang dilakukan saat tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah ancaman nyata.

Peran Israel dalam Perang Teluk
Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak tahun 1990. Saddam Hussein menyerbu Kuwait dalam serangan mendadak pada tanggal 1 Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis internasional. Israel menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih keras. Sedemikian jauhnya sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog, menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan berskala luas atas Irak.

Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya pandangan di AS bahwa serangan terhadap Irak yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat " Hanya ada dua kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementrian Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat." (http://www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html).

Israel juga telah memulai kampanye propaganda serius dalam masalah ini. Karena kampanye ini sebagian besar dilancarkan secara rahasia, maka Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel telah berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulai melaksanakan rencana tersebut segera setelah berakhirnya perang Iran-Irak. Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP - LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254).

Agen Mossad Berbicara tentang Perang Teluk
Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad menggunakan para agen atau simpatisan di berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan bagaimana, misalnya, Amnesty International atau "para penolong Yahudi sukarelawan (sayanim)" di konggres AS dikerahkan. Di antara cara yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal yang diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk sipil di Iran selama perang Iran-Irak. Sebagaimana dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal ini oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana propaganda sungguh janggal, sebab rudal-rudal tersebut ternyata telah diarahkan ke sasarannya oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari satelit AS. Setelah mendukung Saddam selama perangnya melawan Iran, Israel kini tengah berupaya menampilkannya sebagai seorang monster. Ostrovsky menulis:
Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika mereka dapat menjadikan Saddam terlihat sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman bagi pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu ia telah menjadi pelindung pasokan tersebut, maka Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi akan membuat perhitungan yang akan menghancurkan angkatan bersenjata dan kekuatan persenjataanya, khususnya jika mereka sampai yakin bahwa ini hanyalah kesempatan terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 254)
Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan dalam kaitannya dengan Amerika Serikat, pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS akan memenuhi semua tujuan-tujuan yang ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal krisis teluk," dengan kata lain AS hendaknya menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.)
Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS terlibat perang tanpa keterlibatan apa pun di pihak Israel: dan inilah yang benar-benar terjadi.

Israel Memaksa AS Berperang
Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif dalam perencanaan perang oleh AS. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya."
Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk dukungan publik yang diperlukan dalam Perang Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan menyulut api peperangan. Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan rancangan yang dramatis guna meyakinkan para anggota Konggres perihal perang melawan Saddam. Turan Yavuz, wartawan Turki terkenal, memaparkan kejadian tersebut:
9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and Knowlton mengadakan pertemuan di Konggress yang bertemakan "Kebiadaban Irak." Sejumlah "saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh lembaga pelobi tersebut menyatakan bahwa tentara Irak membunuh bayi-bayi baru lahir di bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi mata" memaparkan kekejaman itu dengan sangat rinci, dan mengatakan bahwa para prajurit Irak telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu rumah sakit saja. Berita ini sungguh mengguncang para anggota Konggress tersebut. Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush. Namun, belakangan diketahui bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh lembaga pelobi Hill and Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah anak perempuan duta besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para anggota Konggress untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD'nin Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307)
Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja: Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang pertamanya terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda.

Alih-Alih "Perang terhadap Terorisme"
Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana untuk menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama adanya rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank "konservatif baru", yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century (Proyek bagi Abad Amerika Baru).

Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut:
Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.
Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC – yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb – bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
Minyakkah yang Menjadi Tujuan Sebenarnya?
Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan Saddam? Artikel yang sama melanjutkan:
Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick, [seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli Timur Tengah,] yang juga pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa minyak dipandang oleh para pendukung perang terutama sebagai cara untuk membayar operasi militer yang sangat mahal.
"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu."
Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan Israel"(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush clique" Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: membantu strategi Israel di Timur Tengah.
Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya. Misalnya Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak sebagaimana berikut:
"Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat sejumlah "lobi."
Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for Security Affairs (Lembaga Yahudi untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS" Mereka memiliki hubungan erat dengan "lobi persenjataan," Lockheed, Northrop, General Dynamics dan industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah sama.
Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti dengan "penegakan" demokrasi. …Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey' American Hawks", Yeni Safak, 3 September 2002.)
Proyek Israel "Penguasaan Dunia secara Diam-Diam"
Singkatnya, terdapat kalangan di Washington yang mendorong terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel."

Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah sehingga menjadikan seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit melawan AS tak mungkin akan menguntungkan pihak AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut.

Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang mulai dijalankan pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil besar dalam mengarahkan kebijakan Washington di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari-carinya. 

Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang – dan bukan sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam – memunculkan ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang "benturan antar peradaban," dan telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah peristiwa 11 September. 

Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel." Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama bahwa Israel tengah mengalami kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin's Popularity Has Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret 1995.)
Semua yang telah terjadi di tahun-tahun berikutnya adalah bahwa Israel menjadikan niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11 September memberikan peluang untuk mewujudkan niatan ini menjadi kenyataan. Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap menerapan kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di Konggres Zionis Dunia pada tahun 1982.

Satu-Satunya Jalan Menuju Perdamaian Dunia: Persatuan Islam
Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Tujuan Israel adalah untuk menata ulang kawasan Timur Tengah menurut kepentingan strategisnya sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai Timur Tengah, wilayah paling mudah bergejolak di dunia, Israel memerlukan sebuah "kekuatan dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap AS, tengah berupaya menggadaikan kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Meskipun Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk 4,5 juta jiwa, rencana yang disusun Israel dan para pendukungnya di Barat mengendalikan keseluruhan dunia.

Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini?
1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika Serikat guna membangun dialog antara AS dan dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai dalam memecahkan permasalahan Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan tersebut.

2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat sipil.

Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan antara dunia Islam dan Barat, dan dapat mengatasi perpecahan, penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.
Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel. 

Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim – yang keduanya keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja – dapat hidup berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.

Sumber: HarunYahya.Com

Wagub: Mahasiswa Aceh di Yaman Bukan Kiriman Pemda

Banda Aceh - Kabar meninggalnya mahasiswa Aceh di Yaman, pemerinta Aceh mengatakan akan membantunya. Meskipun mereka yang di Yaman bukan kiriman pemerintah daerah Aceh.

"Kita biayai atau tidak mereka adalah warga kita juga dan perlu kita perhatikan. Juga sedang kita check institusi pendidikan mana yang mengirim mereka ke sana supaya lebih mudah kita evakuasi dan beri bantuan dalam keadaan konflik," ujar Wakil Gubernur Aceh kepada The Globe Journal, Kamis (1/12).

Hingga saat ini pemerintah Aceh secara khusus belum mengirimkan mahasiswa ke Yaman. Direncanakan, tahun depan akan dilakukan pengiriman ke negara itu. "Adapun yang korban terkena roket adalah saudara-saudara kita yang mengaji dan belajar dengan sponsorship yang mereka cari sendiri, tapi ada kemungkinan mereka juga ada yang kita bantu dana pendidikan namun bukan beasiswa penuh," tukas Nazar.

Lanjut Wagub, konflik yang terjadi di Yaman itu adalah konflik antar mazhab, yang telah melibatkan senjata dan kekerasan, yaitu antara Sunni dan Syiah. Nazar atas nama pribadi dan pemerintah daerah sangat prihatin dengan keadaan itu, apalagi saudara-saudara yang menjalankan misi agama yaitu menuntut ilmu pengetahuan.

"Kami akan pantau terus secara langsung maupun tidak langsung melalui korp diplomatik Indonesia yang ada di Yaman. Kalau tidak salah penembakan roket itu sendiri terjadi di kota Dalha,"imbuhnya Nazar panjang lebar.

Nazar menjelaskan, perlu sistem terpadu pengelolaan data mahasiswa Aceh di luar negeri, sehingga dimanapun mereka belajar dan siapapun sponsornya dapat diketahui orang tua mereka yang sedang dilacak di Aceh, namun yang menjadi kesulitan karena korban melaksanakan studi dengan inisiatif sendiri dan mungkin ada sponsor lain.

"Karena itulah ke depan perlu segera kita buat sistem terpadu pengelolaan data siswa dan mahasiswa Aceh yang studi di luar daerah atau luar negeri meskipun sponsor beasiswa mereka boleh berbeda,"jelas Nazar.[003]

Sumber: TGJ

Friday, December 2, 2011

'Tak Perlu Perang Besar, Israel akan Serang Iran Diam-diam dengan Tenang'

Tel Aviv - Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menyerang Iran dalam waktu dekat ini. Namun, ia menegaskan bahwa semua opsi tetap terbuka untuk menghentikan Iran terkait fasilitas nuklirnya.

"Kami tidak punya niat pada saat ini mengambil tindakan, tetapi Negara Israel masih jauh dari lumpuh karena ketakutan," tegas Barak kepada Radio Israel, Kamis (1/12). "Ini harus dilakukan dengan tenang dan diam-diam - kita tidak perlu perang besar," sambungnya lagi.

Pernyataan Barak tersebut disampaikan sehari setelah Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mengetahui apakah Israel akan memberitahu AS terlebih dahulu terkait rencananya menyerang Iran.

Petinggi Militer AS ini juga mengakui adanya perbedaan antara AS dan Israel terkait cara terbaik untuk menangani Iran dan program nuklirnya.

Dempsey mengatakan AS yakin bahwa sanksi dan tekanan diplomatik merupakan jalan yang benar untuk menghadapi Iran. Tetapi Dempsey tetap menambahkan, "Penyataan ini bukannya mengambil pilihan manapun dari meja," katanya menggunakan bahasa yang membuka kemungkinan aksi militer di masa depan.

"Saya tidak yakin Israel berbagi pemahaman dalam soal nuklir Iran. Dan karena mereka tidak sepemahaman dan bagi mereka ini ancaman nyata. Saya pikir cukup adil untuk mengatakan bahwa harapan kita sekarang berbeda," kata Dempsey dalam sebuah wawancara saat ia terbang ke Washington dari London, seperti dikutip Haaretz.

Saat ditanya apakah perbedaan antara Israel dan AS yang dimaksud adalah sanksi kepada Iran, atau sekadar perbedaan perspektif tentang tindakan di masa depan, Dempsey mengatakan, "Semua hal di atas," ujarnya tanpa merinci. Dempsey juga tidak mengungkapkan apakah dia percaya Israel sudah bersiap untuk menyerang Iran.

Sumber: republika.co.id

 
Design by Adly Jay Lanie